Sampang, Madura,beritajatim,site – Di tengah perkembangan zaman modern, sebagian masyarakat mulai melupakan kisah-kisah lama yang dulu hidup dari mulut ke mulut. Salah satunya adalah legenda “Duek Poteh Banyu Ates”, sebuah cerita rakyat yang dipercaya berasal dari wilayah Sampang, Madura.
Dalam bahasa Madura, duek poteh banyu ates secara harfiah dapat dimaknai sebagai “duduk putih di atas air,” yang oleh sebagian sesepuh diartikan sebagai simbol kesucian, kesaktian, atau kemampuan spiritual tinggi seseorang yang mampu “menguasai” air.
Legenda ini berkaitan dengan seorang tokoh sepuh yang dikenal dengan nama Angkeh.
Ia disebut sebagai sosok yang sangat disegani masyarakat Sampang pada masa lampau. Menurut cerita lisan, Angkeh memiliki kesaktian luar biasa dan kebijaksanaan dalam memimpin serta membimbing masyarakat.
Salah satu kisah paling terkenal menyebutkan bahwa Angkeh pernah menyebrangi lautan menuju Pulau Jawa dengan menunggang ikan suro (ikan hiu besar). Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan dipercaya sebagai simbol kekuatan spiritual dan keberanian menghadapi tantangan zaman.
Walaupun belum ditemukan catatan tertulis resmi mengenai kisah ini, cerita tentang Angkeh dan Duek Poteh Banyu Ates tetap hidup dalam tradisi tutur sebagian masyarakat tua di Sampang. Nilai yang terkandung di dalamnya meliputi:
Keberanian dan keteguhan hati
Kebijaksanaan seorang pemimpin
Kekuatan spiritual dan kesucian niat
Hubungan manusia dengan alam (laut sebagai simbol kehidupan)
Seiring berjalannya waktu, generasi muda semakin jarang mendengar kisah ini.
Oleh karena itu, para pemerhati budaya Madura mendorong agar cerita-cerita rakyat seperti legenda Angkeh dapat didokumentasikan sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.
Legenda ini bukan sekadar cerita mistis, tetapi juga cerminan identitas dan kearifan lokal masyarakat Madura, khususnya Sampang.(Luq)











